Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

Wanita Sholehah Calon Istriku

Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki : “Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”

Menikah mengandung tanggung jawab yang besar. Oleh karena itu, memilih pasangan hidup juga merupakan hal yang harus benar-benar diperhatikan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan dan petunjuk tentang cara memilih pasangan hidup yang tepat dan islami. Insya Allah.

Mudah-mudahan tips-tips berikut ini akan dapat bermanfaat.

  1. Beragama islam (muslimah). Ini adalah syarat yang utama dan pertama.
  2. Memiliki akhlak yang baik. Wanita yang berakhlak baik insya Allah akan mampu menjadi ibu dan istri yang baik.
  3. Memiliki dasar pendidikan Islam yang  baik. Wanita yang memiliki dasar pendidikan Islam yang baik akan selalu berusaha untuk menjadi wanita sholihah yang akan selalu dijaga oleh Allah SWT. Wanita sholihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.
  4. Memiliki sifat penyayang. Wanita yang penuh rasa cinta akan memiliki banyak sifat kebaikan.
  5. Sehat secara fisik. Wanita yang sehat akan mampu memikul beban rumah tangga dan menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu yang baik.
  6. Dianjurkan memiliki kemampuan melahirkan anak. Anak adalah generasi penerus yang penting bagi masa depan umat. Oleh karena itulah, Rasulullah SAW menganjurkan agar memilih wanita yang mampu melahirkan banyak anak.
  7. Sebaiknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah menikah. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara keluarga yang baru terbentuk dari permasalahan lain.

Adapun untuk mengetahui bahwa calon istri kita sholehah, cobalah memakai barometer di bawah ini :


Muslimah shalihah yang berakhlak mulia memiliki beberapa karakteristik yang indah.
  • Bertakwa Kepada Allah SWT dan bisa menjaga dirinya, anak-anaknya, serta harta suaminya. Dalam AlQur’an Allah Berfirman yang maksudnya,“Sebab itu, Maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dir ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah Memelihara mereka.” (Q.S An Nisa’:34)
  • ia memiliki sifat sabar. Ia bersikap tabah dalam menghadapi berbagai persoalan. Bahkan ia pandai menghibur suaminya yang sedang di rundung masalah. Bukannya malah merunyamkan suasana.
  • Senantiasa menjaga shalat 5 waktu. Sebagaimana maklum shalat 5 waktu adalah tiang agama. Muslimah yang menjaga shalatnya adalah sosok muslimah yang sendi-sendi keimanannya kokoh. Ia akan kuat menghadapi berbagai terpaan cobaan dan musibah. Muslimah seperti inilah yang bisa menjadi faktor kunci sukses suaminya.
  • Menjaga auratnya dengan baik. Ia tak mau keluar rumah kecuali seizin suaminya. Andaikata keluar, ia menutupi aurat yang menjadi kehormatannya serta suaminya. Allah SWT berfirman yang maksudnya, ” Hai nabi. Katakanlah kepada isteri-isteri mu, anak-anak perempuammu dan isteri-isteri orang beriman “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal. Karera mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S Al Ahzab, 59)
  • Taat kepada suaminya, menghormatinya, mencintainya, menyayanginya. Selalu menampakkan wajah yang menyenangkannya. Selalu memberikan dukungan kepada suami baik dalam urusan pekerjaan atau ibadah. Tidak menghardik atau mengeluarkan kata-kata kotor kepadanya. Tidak membicarakan aib-aibnya kepada wanita lain. Tak pernah ada niatan untuk menyakitinya. Ia senantiasa menlakukan perbuatan yang membuat ridha suaminya. Rasul SAW bersabda, “Tatkala seorang muslimah melaksanakan shalat 5 waktu, menunaikan puasa wajib dan mematuhi suaminya, maka ia akan memasuki surga Tuhannya.”
  • Bisa mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebab mereka lebih dekat kepada anak-anak daripada suami yang lebih banyak keluar untuk bekerja. Seorang Muslimah Shalihah akan mengajarkan anak-anaknya membaca Al Qur’an, menanamkan rasa cinta kepada Nabi SAW beserta keluarganya. Mendampingi mereka melewati masa kanak-kanak dengan lembut dan penuh cinta, menjauhkan merekan dari akhlak tercela. Dan tak kalah pentingnya, mengajarkan mereka rasa hormat kepada ayahnya.
  • Mampu menasehati suami yang sedang lalai dari ibadah dengan cara yang santun dan bijak. Ia bisa mengambil hati suaminya sebelum mengingatkannya. Cara demikian lebih bisa di terima suami ketimbang cara-cara langsung yang akan memperburuk situasi.
  • Memiliki prinsip hidup yang kuat. Ia tak mudah terpengaruh gaya hidup non islami yang sekarang ini gencar di budayakan oleh media massa. Sebagai muslimah ia harus tetap berpegang teguh pada ajaran Islam baik dari segi berpakaian, berprilaku dan lainnya. Ia pantang meniru lifestyle wanita non muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meniru gaya hidup suatu kaum, berarti ia termasuk golongan tersebut.”
  • Ia mampu menjaga penglihatannya dan kehormatannya. Ia tak mau memandang laki-laki selain suaminya. Kehormatannya di jaga mati-matian demi suaminya. Ia bersolek hanya untuk suaminya. Ini merupakan gambaran Bidadari Syurga. Allah SWT berfirman.. Yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An Nuur:31)
  • Bersikap wara’. Ia tak mau mengkonsumsi makanan-makanan yang haram ataupun yang syubhat. Demikian pula ia menjaga suami dan anak-anaknya dari hal tersebut. Ia faham betul bahwa dari makanan yang baik dan halal akan lahir pula kepribadian-kepribadian yang baik. “Kuatnya agama adalah sikap wara’.” demikian sabda Nabi SAW.
Demikian sebagian karakteristik muslimah yang shalihah. Dengan karakteristik tersebut ia akan menampakkan kecantikan bathin yang akan abadi dan takkan lapuk oleh penuaan seperti halnya kecantikan jasmani.
“Wanita yang solehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri (tidak berlaku curang serta memelihara rahsia dan harta suaminya ) di belakang suaminya, oleh kerana Allah telah memelihara mereka…” (Surah An-Nisa’:34)


Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan perhiasan yang terindah adalah wanita yang shalihah.”

Mozammyl ccs

Senin, 13 Februari 2012

'' MENGGAPAI KETENANGAN JIWA YANG ISLAMI ''

Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Qur'an menyebutkan beberapa kiat praktis.

Valentine ? Sejarahnya? Tujuannya? Hukumnya? Realitanya!!!!!

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)


Tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.---

HARI VALENTINE

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day) atau disebut juga Hari Kasih Sayang, pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya, sekilas seperti itu...


Selasa, 07 Februari 2012

Menjadi Wanita Karir Versi MTI

Islam memandang, baik laki-laki maupun perempuan memiliki potensi masing-masing. Laki-laki diberi kekuatan pikiran dan wanita diberi kepekaan rasa. Keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Rasulullah SAW bersabda:
“Suami pemimpin keluarganya dan ia akan ditanya kepemimpinannya, seorang istri pemimpin dalam rumah tangga dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari).
Seorang wanita dituntut untuk melaksanakan semua kewajiban rumah tangga dan mengurusi anak-anak dengan sebaik-baiknya. Semua itu memerlukan waktu, energi, dan perhatian ekstra. Di samping itu, ia juga dituntut menjadi seorang istri yang baik di mata masyarakat. Wanita juga masih dituntut untuk menjaga penampilannya, sehingga tidak menghilangkan sisi kewanitaan. Hak-hak wanita tidak terletak pada kebebasan untuk berkarier, tetapi haknya yang paling mendasar adalah hidup dengan karakter alaminya. Karier mengakibatkan timbulnya sekat yang memisahkan istri dari suaminya, dan mempengaruhi kebersamaan mereka berdua untuk membicarakan hal-hal yang dapat mempererat hubungan dan menambah keharmonisan. Fenomena wanita bekerja di luar rumah rentan menimbulkan kekacauan dalam keluarga. Jika tidak sangat terpaksa, wanita yang bekerja di luar rumah sungguh menyiksa dan merusak konsentrasinya dalam mengurusi keluarga. Sebab tak jarang wanita yang telah memilih profesi menjadi wanita karier telah gagal menjadi ibu rumah tangga.
Terkait dengan hal ini, Marry De Clark, istri mantan Presiden Afrika Selatan mengatakan, “Sungguh, tempat yang paling cocok bagi wanita adalah rumah tempat tinggalnya.” Seorang pakar berkebangsaan Inggris yang bernama Samuel Smiles mengatakan. “Sungguh, undang-undang yang memperbolehkan para wanita bekerja di pabrik-pabrik dan kantor-kantor, meski dapat meningkatkan hasil produksi, namun akan berakibat fatal bagi kelangsungan rumah tangga. Sebab peraturan itu telah mengintervensi urusan rumah, merobohkan pilar-pilar keluarga, mencabik-cabik hubungan sosial, merampas istri dari suaminya, juga merebut anak-anak dari kerabat mereka, sehingga hal itu hanya akan merusak moralitas kaum wanita.” Seorang pakar kedokteran industri menegaskan, “Pekerjaan dapat melemahkan sifat kewanitaan, bahkan pekerjaan yang ringan sekalipun. Profesi yang hanya menuntut kerja otak dan tanggungjawab juga mempunyai efek yang sama. Keletihan psikis yang dialami wanita karir di tengah-tengah pekerjaannya jelas berbeda dengan suasana kehidupan keluargnya. Pekerjaan juga dapat berdampak pada hasrat seksual wanita.” Dari pernyataan beberapa tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum menjadi wanita karir bisa memberikan dampak negatif pada pribadi seorang wanita, keluarga, dan masyarakat. Baik dari sisi pengaruhnya terhadap kesehatan fisik, psikisnya, maupun dampak negatif terhadap moralitas, ketenangan, dan kebahagiaan keluarga. Untuk itu, sebaiknya wanita tidak bekerja kecuali dalam keadaaan sangat terpaksa. Itupun harus dengan beberapa pertimbangan dan batas-batas tertentu.
Kaum wanita dalam Islam memang tidak memiliki banyak peluang dan kesempatan untuk tampil dipermukaan dan hadir menyapa publik sebagaimana lazimnya kaum laki-laki. Dalam urusan ekonomi kaum wanita tidak dituntut keluar rumah untuk mencari nafkah, dalam masalah ibadah, kaum perempuan tidak dianjurkan salat jum’at, dan hari raya, mereka tidak boleh azan apabila di sampingnya ada laki-laki yang bukan mahramnya apalagi sampai bernyanyi. Mereka juga tidak diwajibkan berjihad dan haji walaupun sudah menjadi kewajibannya, apabila tidak disertai dengan mahramnya apalagi keluar rumah hanya sekadar untuk mencari ekonomi atau profesi.
Kendati demikian bukan berarti perempuan tidak memiliki akses terbuka untuk memanfaatkan potensinya, bahkan perempuan merupakan ikon terpenting dan jendela kehidupan manusia. Kaum wanita adalah pahlawan di balik layar, dari rahim merekalah generasi bangsa ini dilahirkan, hanya saja kaum perempuan memiliki ruang yang tidak sama dengan kaum laki-laki. Perbedaan ini dimaksudkan agar wanita berada dalam ruang yang selaras dengan karakternya. Bukankah keadilan itu tidak harus sama?.
Dalam Islam, kemuliaan tidak bisa dilihat dari sisi status atau profesi seseorang, akantetapi barometer kemuliaan terletak pada ketakwaan dan sejuah mana ia bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Contoh konkretnya, Dewi Masyitah hanyalah tukang sisir putri raja, namun beliau berhasil memiliki derajat yang mulia di sisi Allah SWT, namanya harum sepanjang masa, mengalahkan Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Bilal bin Rabah, juga bukanlah seorang manajer atau direktur dalam sebuah perusahaan melainkan ia hanyalah seorang hamba sahaya yang tertindas, tapi ternyata memiliki kedudukan tinggi di depan Tuhan dan Rasul-Nya.

Kapan Diperbolehkan Berkarir?
Ketika terjadi benturan antara profesi wanita sebagai wanita karir dan sebagai ibu rumah tangga, maka yang harus dilakukan oleh seorang wanita adalah mengambil langkah paling tepat yakni memprioritaskan yang paling maslahat baik bagi dirinya lebih-lebih bagi keluarganya. Dan yang paling maslahat itu adalah menunaikan tugas dan kewajiban sebagai istri yang berupa melayani suami, memberikan kebahagiaan kepadanya, mendidik anak-anaknya agar menjadi anak saleh. Alasanya, karena kemaslahatan keluarga merupakan bagian dari kemaslahatan masyarakat. Sebab, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun kondisi sebuah masyarakat sangat bergantung pada kondisi keluarga. Jika keluarga rusak, maka masyarakat rusak, begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu, Islam menetapkan bahwa pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga dibebankan kepada seorang suami selaku presiden rumah tangga sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur'an:
"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf." (QS. Al-Baqarah [];233). Pemenuhan kebutuhan ekonomi merupakan pekerjaan berat, sehingga apabila hal ini dibebankan kepada kaum perempuan tentu akan merasakan kesulitan serta menyebabkan tugas dan kewajiban yang lebih penting jadi terbengkalai sebagaimana kondisi yang dialami perempuan-perempuan di Negara Barat.

Aturan-aturan dalam Berkarir
Apabila situasi dan kondisi rumah rumah tangga menuntut seorang wanita harus bekerja, maka ia harus memenuhi persyaratan sebagaimana berikut: 1. Mendapat izin dari walinya yaitu ayah dan atau suaminya. 2. Tidak bercampur dengan laki-laki, atau melakukan khalwah (berduaan) dengan laki-laki lain. 3. Tidak melakukan tabarruj (bersolek) dan menampakkan perhiasan yang dapat mengundang fitnah. 4. Tidak memakai wangi-wangian yang menyengat hidung, atau parfum yang membangkitkan birahi seseorang. 5. Tetap menutupi aurat.
Prof. Dr.Yusuf al-Qardhawi menambahkan rambu-rambu bagi wanita yang ingin bekerja sebagai berikut: 1. Pekerjaan itu harus sah menurut hukum Islam. Karena itu, pekerjaan yang tidak sejalan dengan aturan Islam tidak diperbolehkan, misalnya bekerja sebagai penari yang membangkitkan gairah seksual, atau sebagai pelayan di sebuah restoran yang menyajikan minuman yang haram dikonsumsi semisal alkohol. 2. Jika wanita keluar rumah untuk bekerja, ia harus menjaga moralnya sebagai wanita muslim dalam berpakaian, cara berbicara, dan tingkah laku. 3. Pekerjaan tersebut tidak sampai mengganggu kewajibannya, seperti tugasnya terhadap anak-anaknya dan suaminya, yang merupakan tugas utama. 4. Ruang gerak wanita selama dalam bekerja harus tidak melanggar aturan-aturan syariat.
Dari pemaparan singkat ini, bisa dimengerti bahwa Islam tidak mengekang kaum wanita untuk meniti karir. Selama karir tersebut tidak berbenturan dengan kode etik agama dan tentunya sudah memenuhi syarat-syarat di atas, maka hal itu tidak menjadi masalah. Sayangnya, dewasa ini materi seakan menjadi prioritas utama. Mayoritas masyarakat lebih bergairah dengan tawaran-tawaran yang berbau dunia daripada tawaran pahala yang sudah dipromosikan oleh agama lewat para muballigh, dan dai. Akhirnya, semoga kita diberikan kekuatan iman. Amin!